Thursday, January 26, 2012

Sebuah Pertanyaan



“Kenapa siyh kita bisa ada di Dunia?”, “Bagaimana siyh caranya kita berjalan pertama kali”, “Apa siyh Ayah dan Ibu atau siapakah?”, “Kenapa burung bisa terbang?”, Semua pertanyaan yang muncul di masa-masa kecil kita dulu adalah sesuatu hal memang sewajarnya kita melakukan pertanyaan, hingga kita pun beranjak dewasa. Dan di saat inilah kita mulai memasuki tahap malas bertanya. Entah apakah memang kita memang malas atau malu untuk menanyakan suatu pertanyaan kepada seseorang terhadap sesuatu yang memang tidak kita ketahui? ( nah kan..dari hal ini saja, saya sudah melakukan satu pertanyaan).

Pertanyaan bukanlah hal yang tabu. Toh kita hidup di Negara Demokrasi, dimana semua hal bebas kita lakukan (asal dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab). Sesuatu hal yang bisa menyesatkan terkadang bisa terjadi jika kita tidak bertanya.

***

Pada suatu waktu gw sedang melakukan kegiatan rutin di masa senggang gw, yaitu menonton DVD di kala libur panjang, dan tanpa sadar adik sepupu gw yang masih duduk di kelas 3 SD ikut menyaksikan salah satu adegan “a lips touch by another lips for a while”. Nah, kaget lah gw, kenapa juga niyh anak kecil bisa ada disebelah gw dan ikut nonton dengan serius! Yang akhirnya membuahkan satu pertanyaan jenius dari si kecil (suatu pertanyaan mudah yang sepertinya harus di jawab dengan berbagai penjelasan serius untuk ukuran anak di bawah umur, singkat kata.. Ribet Jawabnya!). He asked to me : “Lagi ngapain siyh orang itu,mas?”, dan gw pun bingung harus menjawab apa, lalu hanya memberikan jawaban bijak, “itu namanya cara kita memberikan rasa cinta dan sayang sama orang yang kita suka atau sayang, tetapi untuk batasan umur tertentu, klo kamu udah tua kaya ibu dan ayah kamu”. (Semoga bisa menjawab rasa penasaran si adik kecil.. *amin*). Di lain sisi gw bersyukur dia bertanya keg w disaat yang mungkin kurang tepat, tetapi dengan orang yang agak sedikit tepat, dalam artian tidak dengan orang dan waktu yang salah, jadi tidak akan tersesat jalan kedepannya.

Sama halnya dengan saat gw berjalan mencari alamat, mencoba hanya mengandalkan GPS dari handphone (sampai akhirnya gw pun tersesat dengan arahan si GPS canggih itu). Sampailah pada tahap yang kritis gw pun bertanya pada seseorang ditengah jalan bagaimana cara menuju tujuan awal gw. Dan semuanya pun menjadi jelas, sejelas cinta gw pada Tuhan! (Amin).

Dibalik semua kejadian itu gw menyadari seandainya kita tidak pernah bertanya, mungkin kita akan selalu terjebak dan ada kemungkinan tersesat tanpa tahu semua kebenaran yang ada, yang seharusnya bisa kita ketahui.

***

Gw pun menyadari jika di dalam lingkungan kerja gw pun memang diharuskan selalu bertanya di setiap ada kesempatan. Pertanyaan terhadap apapun itu akan menjadi hal yang wajar dan biasa dalam kehidupan ini dengan sendirinya.

Sebuah pertanyaan mungkin akan membuat kita terlihat bodoh, terkadang membuat kita terlihat sangat menyebalkan, atau bahkan orang akan memandang kita aneh, dsb. Tetapi bukanlah sebuah dosa untuk kita melakukan sebuah pertanyaan. Bahkan seorang Albert Enstein pun sampai akhir hidupnya masih membawa suatu pertanyaan “Apakah Telur atau Ayam kah yang pertama kali ada di dunia ini?”. Hahaha…mungkin agak terlihat jenaka jika seorang ilmuwan yang bertanya seperti itu, tetapi tidak ada salahnya seseorang bertanya seperti itu, toh tidak ada dosa yang terjadi selama pertanyaan itu dilontarkan.

NB : Don’t be afraid to asking for something or anything that u want to know, and be smart!

Wednesday, January 11, 2012

Cinta dan Sepatu Futsal


Setelah lumayan agaklama belum nulis lagi, akhirnya ada kesempatan juga niyh diwaktu-waktu yangterlalu padat di kala bekerja membanting tulang demi sebuah rumah idamanbeserta isinya.. [aminn]. Tapi ga sampe bantingin tulang juga siyh…(bukantukang daging atau algojo pemotong sapi soalnya!). hehe...

Sebenarnya mau cerita soal malam tahun baru gw siyh dengan segala keceriaan yang ada.Tapi….lagi males cerita kepanjangan! Hehehe…(penyakit orang sibuk, kadang malesbuat nulis, walaupun gw tau itu ga baik buat penulis!). Jadinya gw hanyasedikit bercerita tentang hobi gw yang sudah cukup lama gw selami, yaitubermain futsal. Takkan tergantikan lah pokoknya sama satu olahraga ini, sejakgw kenal pas SMA dulu..(pengganti Basket yang sempat popular di zaman-zaman SMAlabil itu..hahaha!). Tapi, bukan dari futsalnya itu sendiri yang mau gw angkatdicerita kali ini, melainkan sepatu futsal yang selalu gw pakai dikala latihanataupun bertanding.

Nah, futsal ituudah jadi sesuatu yang addict banget buat seorang Icha yang notabene Pemalaskelas kakap! [agak aneh memang pemalas suka olahraga]. Yahh..itulah hidupdengan sejuta warna yang berbeda [mulai ga jelas].

Ahh…cukup ceritaga pentingnya. Sekarang akan gw ceritain cerita yang sebenarnya dibalikolahraga futsal itu sendiri dengan filosofi sepatu futsal yang gw anut selamaini. Sebuah motto hidup “My Love is my (futsal) Shoes”.

***
Suatu waktu gwmemang sedang mengincar sepatu futsal baru yang selama ini gw idam-idamkan.Sesuatu hal yang memang langka (bukan karena Limited Edition, tapi memang tuhperusahaan sepatu sudah bangkrut dan tidak produksi lagi sepatu jenis itu),alhasil susahnya minta ampun nyari tuh barang, dari mulai warna yang ga pas(bukan yang gw inginkan), sampai masalah ukuran sepatu, jadi serba salah (Raisabanget!). Dan semua usaha gw untuk mencari sudah hampir punah (Dinosaurus kaliya..punah gitu?). Intinya siyh, itu barang emang kayanya bukan rezeki gw.

Sampailah padasuatu saat gw memutuskan untuk berhenti berharap dengan kenyataan pahit yang gwterima, bahwa barang itu memang bukan untuk gw (menerima dengan sangat lapangdada). Dan pada saat itulah gw menemukan sesuatu yang baru dan lebih fresh,sepatu produksi perusahaan yang hampir sama (dalam arti, si perusahaan yangbangkrut ini sahamnya di beli oleh si perusahaan yang baru ini) dan sepatu inimemang terlihat menarik, tapi memang agak kurang nyaman, saat pertama kalidipakai siyh. Tapi gw coba untuk beli dulu, dengan anggapan, masih satupabrikan walaupun udah beda nama dan logo. Dan dimulailah pertandingan demipertadingan dari sepatu itu [gaya so atlet! Hahaha...].

Eits, belumselesai ceritanya sampai disitu. Coba bayangkan dulu, apa jadinya tuh sepatusampai sekarang?... Jadi begini ceritanya setelah gw membeli sepatu ini, tidaklangsung serta-merta gw pakai terus-terusan, karena memang ternyata tidakterlalu nyaman, sampai akhirnya gw memutuskan untuk berniat membeli yang baru.Dan disitulah peran nyokap sebagai orang tua yang bijak muncul..[jeng..jeng..jeng..antara bijak dan hemat itu tipis yah! Hahaha…]. Beliaumengatakan :
Nak, coba dinikmati dulu aja itu sepatu, masa kalo ga enaklangsung ganti lagi..trus kalo pas beli ga enak lagi, kamu bakal ganti lagi?Dan terus seperti itu selanjutnya?..apa ga sayang uangnya,nak?.. Toh kamu baruberapa kali pakai itu sepatunya kan..coba dulu lah untuk beberapa bulan.
Dansaya pun langsung merasa tertohok (sejenis keselek biji salak, pas lagi makanpisang!). Lalu semenjak itu gw merasa sepatu baru ini, harus menjadi bagiandari hidup gw, mulai dari main futsal bareng temen-temen, mandi bareng, tidurjuga sama-sama, sampai makan pun gw ajak sama-sama. (How sweet thislife...huhuhu). Dan 1 bulan pun berlalu samapi gw udah ga merasakan lagiketidaknyamanan terhadap sepatu itu. Lebih baiknya lagi, sepatu itu yang sampaisaat ini menemani gw menendang-nendang bola dilapangan futsal untuk mencetakbanyak goal [agak nyombong dikit! Hehehe..].

Sesaat gwakhirnya tertegun dan berfikir sejenak disuatu latihan futsal, kalo selama inigw juga terlalu memilih dalam menjalani hubungan dengan wanita. Untuk satu halyang pasti gw inginkan.. Kenyamanan! Yeah..kenyamanan yang gw cari selama inibelum pernah gw dapat, makanya mungkin gw sering berganti-ganti pasangan. Dansama halnya cinta gw ini berakhir seperti sepatu futsal yang gw pakai saat ini.Punya siklus, dari gw mencari yang sesuai sama yang gw inginkan, sampaimendapatkan sesuatu yang berbeda tetapi biasa saja dan malahan merasa tidakcocok diawalnya, hingga gw belajar memahami, bahwa sepatu ini memang hampirsemuanya ga ada yang langsung klop, musti di pakai berkali-kali untuk bermaindan dengan sendirinya akan mengikuti alur kaki kita, sehingga menjadi suatukenyamanan yang gw inginkan dan mulai bisa gw terima, bahkan tidak menutupkemungkinan menjadi salah satu favorit gw yang gw cintai (baca: selalu gw pakaidisetiap ada pertandingan sepatunya).

NB : Cinta itu memangsama kaya sepatu futsal gw ini…diawal memang mungkin terlihat sangat menarik,tetapi terkadang tidak semua hal yang menarik selalu selamanya menarik, pastiada hal-hal minusnya…dan itulah hal yang harus diterima (plus-minusnya pilihangw!), sampai pada akhirnya bisa saling melengkapi untuk sebuah kenyamanan.